Saat rasa nyeri hebat akibat sakit gigi menyerang, keinginan untuk segera mencabutnya agar rasa sakit cepat hilang memang sangat wajar. Namun, secara medis, dokter gigi hampir selalu menolak untuk melakukan prosedur pencabutan ketika gigi masih dalam keadaan sakit atau meradang.
Banyak orang mengira tindakan ini hanyalah bentuk penundaan biasa, padahal ada alasan medis dan risiko kesehatan yang sangat serius di baliknya. Berikut adalah ulasan lengkap mengenai alasan sakit gigi tidak boleh dicabut serta serta prosedur dari dokter Opal Dental untuk kamu.
Apakah Boleh Cabut Gigi Ketika Gigi Masih Sakit?
Jawabannya adalah tidak disarankan dan umumnya dilarang secara medis. Ketika gigi sedang terasa sangat sakit, itu menandakan adanya peradangan aktif (inflamasi) atau infeksi bakteri di sekitar jaringan gigi dan gusi.
Ada dua alasan utama mengapa pencabutan ditunda saat gigi masih sakit:
- Obat Anestesi (Bius) Tidak Bekerja Maksimal
Peradangan dan infeksi menciptakan kondisi jaringan yang lebih asam dari biasanya. Lingkungan asam ini merusak efektivitas obat bius lokal. Akibatnya, rasa sakit yang sangat hebat akan tetap terasa selama proses pencabutan berlangsung. - Risiko Penyebaran Infeksi ke Pembuluh Darah
Tindakan pencabutan akan membuka luka baru pada gusi. Jika pencabutan dilakukan saat infeksi bakteri masih aktif, bakteri tersebut berpotensi masuk ke dalam aliran darah (bakteremia) dan menyebar ke organ tubuh lain, yang dapat berujung pada komplikasi sistemik.
Oleh karena itu, dokter gigi biasanya akan memberikan resep obat pereda nyeri dan antibiotik terlebih dahulu untuk meredakan infeksi serta peradangan. Setelah kondisi stabil dan rasa sakit mereda, barulah tindakan pencabutan aman dilakukan.
Penyakit Apa yang Tidak Boleh Dicabut Gigi?
Selain kondisi peradangan aktif, ada beberapa penyakit atau kondisi medis tertentu yang menjadi pemicu riwayat kesehatan berisiko tingi (kontraindikasi) untuk tindakan cabut gigi. Prosedur ini membutuhkan penanganan khusus atau penundaan hingga kondisi pasien stabil:
- Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah: Pasien dengan riwayat gangguan katup jantung, gagal jantung, atau yang baru saja mengalami serangan jantung berisiko mengalami komplikasi berat seperti endokarditis infektif (infeksi pada lapisan dalam jantung).
- Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi): Penderita hipertensi tak terkontrol sangat rawan mengalami perdarahan berlebihan selama atau setelah pencabutan. Selain itu, stres saat prosedur cabut gigi dapat memicu lonjakan tekanan darah mendadak.
- Diabetes Melitus Tidak Terkontrol: Kadar gula darah yang tinggi memperlambat proses penyembuhan luka dan meningkatkan risiko infeksi sekunder pasca-pencabutan secara signifikan.
- Gangguan Pembekuan Darah: Penderita hemofilia, leukemia, atau pasien yang rutin mengonsumsi obat pengencer darah (antikoagulan) harus berkonsultasi terlebih dahulu karena berisiko mengalami pendarahan hebat yang sulit dihentikan.
- Gagal Ginjal Kronis: Penyakit ginjal mempengaruhi daya tahan tubuh dan mekanisme pembekuan darah, sehingga memerlukan koordinasi ketat dengan dokter spesialis sebelum tindakan bedah mulut dilakukan.
Apa Saja Ciri-Ciri Sakit Gigi yang Berbahaya?
Tidak semua sakit gigi merupakan keluhan biasa. Beberapa gejala menandakan bahwa infeksi telah menyebar dan membutuhkan penanganan medis darurat (emergency). Waspadai ciri-ciri sakit gigi berbahaya berikut ini:
- Pembengkakan Menyebar ke Wajah atau Leher: Jika bengkak meluas hingga ke pipi, rahang, bawah lidah, atau leher, ini mengindikasikan infeksi telah menyebar ke ruang jaringan dalam.
- Kesulitan Bernapas atau Menelan: Pembengkakan pada area leher atau tenggorokan yang mengganggu jalur napas adalah kondisi gawat darurat yang harus segera ditangani di rumah sakit.
- Demam Tinggi dan Menggigil: Kehadiran demam menunjukkan bahwa tubuh sedang berusaha melawan infeksi sistemik akibat abses gigi.
- Keluar Nanah Berbau Busuk: Munculnya benjolan berisi nanah (abses) pada gusi yang diiringi bau mulut tidak sedap dan rasa asin di mulut.
- Rasa Nyeri Menjalar hingga ke Telinga atau Kepala: Nyeri konstan yang sangat tajam dan tidak mereda meski sudah mengonsumsi obat pereda nyeri biasa.
Apa Saja Ciri-Ciri Gigi yang Harus Dicabut?
Meskipun dokter gigi selalu berusaha mempertahankan gigi asli melalui perawatan saluran akar (root canal treatment) atau penambalan, ada kondisi tertentu di mana gigi sudah tidak bisa diselamatkan lagi dan harus dicabut:
- Kerusakan atau Keropos yang Sangat Parah: Gigi yang berlubang hingga menyisakan sisa akar saja dan tidak memungkinkan lagi untuk dibuatkan mahkota gigi tiruan.
- Gigi Goyang Parah Akibat Penyakit Periodontal: Infeksi pada gusi dan tulang penyangga gigi (periodontitis) yang menyebabkan kerusakan tulang secara permanen sehingga gigi menjadi sangat longgar.
- Gigi Impaksi (Tumbuh Miring): Biasanya terjadi pada gigi bungsu yang tumbuh tidak sempurna, menekan gigi sebelahnya, atau tertanam di dalam tulang rahang sehingga memicu nyeri berulang dan peradangan.
- Infeksi Parah yang Berulang: Gigi yang infeksi atau absesnya terus berulang meskipun telah dilakukan tindakan perawatan saluran akar.
- Kebutuhan Perawatan Ortodonti (Kawat Gigi): Dalam beberapa kasus perapian gigi, pencabutan diperlukan untuk menyediakan ruang agar gigi yang berjejal dapat dirapikan dengan baik.
Kesimpulan
Langkah terbaik saat mengalami sakit gigi adalah segera berkonsultasi dengan dokter gigi untuk mendapatkan diagnosis yang tepat. Mengabaikan sakit gigi atau memaksakan pencabutan saat peradangan masih berlangsung dapat membahayakan kesehatanmu. Penggunaan obat antibiotik dan pereda nyeri sesuai anjuran dokter akan membantu meredakan rasa sakit secara aman sebelum tindakan pencabutan dilakukan.